Sabtu, 17 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
Advokat Online TimeAdvokat Online Time
Advokat Online Time - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Scarlett Johansson dan Ratusan Sineas Hollywood Aj...

Scarlett Johansson dan Ratusan Sineas Hollywood Ajak Penolakan AI dalam Pembuatan Film

Perang Melawan Eksploitasi Digital: Scarlett Johansson dan 700 Sineas Dunia Serukan Aksi Anti-AI Industri kreatif global kini tengah berada di titik persimpangan

Scarlett Johansson dan Ratusan Sineas Hollywood Ajak Penolakan AI dalam Pembuatan Film

Perang Melawan Eksploitasi Digital: Scarlett Johansson dan 700 Sineas Dunia Serukan Aksi Anti-AI

Industri kreatif global kini tengah berada di titik persimpangan penting seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Tidak kurang dari 700 sineas papan atas, termasuk bintang ternama Scarlett Johansson, Cate Blanchett, hingga Joseph Gordon-Levitt, bersatu meluncurkan kampanye global berskala besar guna menuntut perlindungan hukum yang lebih ketat terhadap penyalahgunaan AI.

Lindungi Identitas dari Ancaman Deepfake

Kampanye ini bertujuan untuk mendesak pemerintah dan lembaga internasional agar segera menciptakan regulasi yang mampu mencegah penggunaan gambar, suara, dan identitas artis tanpa izin. Penggunaan teknologi deepfake dan generatif AI yang semakin tak terkendali dianggap telah melanggar privasi dan hak asasi individu di ruang digital.

Scarlett Johansson, yang sebelumnya pernah bersengketa dengan OpenAI terkait penggunaan suara yang sangat mirip dengannya, menjadi salah satu wajah utama dalam gerakan ini. Ia menegaskan bahwa perjuangan ini bukan sekadar masalah bisnis atau persaingan teknologi, melainkan masalah hak asasi manusia untuk memiliki kendali penuh atas identitas diri mereka sendiri.

Tuntutan Utama Para Sineas

Dalam kampanye global ini, ada tiga poin krusial yang disuarakan oleh para sineas:

  1. Perlindungan Lintas Negara: Mendesak adanya sinkronisasi hukum internasional. Agar identitas seorang aktor tidak bisa “dicuri” oleh perusahaan di negara yang memiliki regulasi AI lemah.

  2. Transparansi Data: Menuntut perusahaan teknologi untuk terbuka mengenai data yang digunakan dalam melatih model AI. Terutama jika menyangkut materi yang dilindungi hak cipta.

  3. Labeling Konten AI: Mewajibkan pelabelan yang jelas pada setiap konten yang dibuat menggunakan AI. Agar penonton tidak tertipu oleh identitas palsu atau rekaman hasil kloning digital.

Bukan Melawan Teknologi, Tapi Melawan Eksploitasi

Aktris Cate Blanchett menambahkan bahwa ancaman ini tidak hanya menyasar aktor besar berbayaran tinggi. Dampak paling nyata justru dirasakan oleh aktor pendatang baru dan pengisi suara. Karena pekerjaannya paling rentan digantikan oleh mesin tanpa kompensasi yang adil.

“Kita tidak sedang melawan teknologi, kita sedang melawan eksploitasi yang tidak beretika,” tegas Blanchett dalam pernyataan resminya.

Gerakan ini muncul di tengah ketegangan yang masih berlanjut antara serikat pekerja Hollywood dan studio-studio besar mengenai peran AI dalam produksi film masa depan. Dengan dukungan nama-nama besar dan organisasi internasional hak kekayaan intelektual. Diharapkan tekanan terhadap pembuat kebijakan di Washington D.C. dan Uni Eropa diperkirakan akan semakin meningkat. Guna memastikan masa depan industri film tetap menghargai kreativitas manusia seutuhnya.